loading...

BERHENTILAH MENGHUJAT “GURU MAKAN GAJI BUTA”

Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks

BERHENTILAH MENGHUJAT “GURU MAKAN GAJI BUTA”

Oleh: Baso Marannu

Sengaja saya tulis, karena merasa ‘gregetan’ dengan beberapa komentar dan postingan netizen yang menganggap bahwa keputusan pemerintah untuk menunda tahun ajaran baru hingga tahun 2020 karena mengingat resikonya lebih tinggi pada kesehatan anak-anak, dengan keputusan tersebut itu dengan nada ‘sinis’ para orang tua beranggapan berarti selama beberapa bulan ke depan guru-guru hanya ‘MAKAN GAJI BUTA’ karena tidak melakukan proses belajar mengajar, kalaupun melakukan proses belajar mengajar itupun dilakukan dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Masyarakat kiranya bijak melihat dan membaca realitas tugas dan tanggungjawab guru-guru di Indonesia saat ini menyikapi pendemi covid19, jangan hanya memandang sebelah mata atau bahkan berkomentar negatif, padahal banyak kreativitas dan inovasi selama ini telah dikerjakan oleh guru-guru tapi tidak terekspose di media, karena menurut mereka selama ini ketika membuat anak-anak Indonesia cerdas dan berakhlak tidak mereka ekspose besar-besaran, jadi mereka menganggap bahwa bekerja ikhlas walaupun bayaran mereka tidak besar bahkan harus berkorban adalah sesuatu yang lebih baik dan lebih elegan, ketimbang berteriak-teriak yang akibatnya justru mempengaruhi karakter peserta didiknya.

Saya ingin menyampaikan realitas yang cukup ‘menyedihkan’ selama ini yang mungkin kurang diekspose di media.

MENJADI GURU KUNJUNG KARENA TIDAK ADA JARINGAN INTERNET

Sebagian besar guru yang dengan penuh ikhlas mendatangI siswanya yang memang kondisi daerah mereka tidak terjangkau internet, bisakah Anda membayangkan bagaimana pengorbanan seorang guru yang mendatangi siswanya satu persatu kemudian membimbing mereka di rumah, berapa biaya yang harus guru keluarkan secara pribadi, ingat tranportasi guru nggak dibayarkan sekolah loh! Jadi kalo adan orang tua mengatakan bahwa mereka tidak berbuat, tolong hentikan kritikan itu!

MEMBELIKAN QUOTA UNTUK SISWANYA

Beberapa sekolah justru membelikan quota buat siswanya yang memang tidak mampu membeli kuota internet, jika memang pembelajaran dilakukan dengan jarak jauh, jadi jangan menganggap semua sekolah hanya mementingkan ‘bisnis’ pendidikan.

Bahkan ada guru yang harus merogoh ‘duit pribadi’ hanya untuk membelikan kuota untuk siswanya, ini bukan dari pemerintah loh, betul-betul dana pribadi guru, karena guru ingin melakukan yang terbaik untuk siswanya dan berharap siswanya tidak tertinggal dengan teman-teman yang lainnya yang mampu membeli kuota internet.

GURU HONORER TIDAK MAMPU ‘DIGAJI’ LAGI

Yang cukup menyedihkan, ada beberapa sekolah swasta yang sudah tidak mampu untuk membayarkan intensif bulanan bagi guru-guru honorer, karena ada sebagian besar biaya SPP yang dibebankan kepada orang tua tidak mereka bayarkan dengan alasan kan tidak ada proses belajar mengajar disekolah? Ini pandangan yang terlalu picik, mereka tidak sadar bahwa selama ini biaya SPP itu sebagian untuk membayar guru-guru hononer yang belum terangkat jadi PNS atau belum menerima sertifikasi.

Walaupun mereka tidak di gaji kalaupun di berikan honor ada pemotongan yang cukup besar, bayangkan ada guru honorer yang menerima gaji bulanan hanya 300 ribuan saja perbulan, kemudian karena kurang pemasukan sekolah gaji mereka dipotong hingga 50%, berarti hanya 150 ribu, mau diapakan uang sejumlah itu? Tapi kenyataannya mereka tetap dengan penuh keikhlasan melaksanakan tugas dan tanggungjawab guru honorer dengan penuh semangat, walaupun sedikit mengelus dada penuh kesabaran.

BEKERJA KERAS MEMPERSIAPKAN KURIKULUM ‘DARURAT’

Saat ini beberapa sekolah dengan penuh tanggungjawab mempersiapkan segala hal yang menyangkut kurikulum, strategi belajar mengajar serta skema yang terbaik untuk pelaksanaan pembelajaran ketika dilakukan penundaan, dengan berbagai alternatif itu tentunya menguras pikiran dan tenaga, kita sebagai orang tua kan hanya tahu beres. Jadi saat ini walaupun siswa nggak ke sekolah para guru-guru masih diwajibkan ke sekolah untuk berkoordinasi dengan guru-guru lainnya seperti biasa, hanya saja mereka tidak masuk ke kelas untuk mengajar.

GURU TETAP MEMANTAU SISWANYA SATU PERSATU

Ini bukan pekerjaan mudah, menyapa dan memantau keadaan siswanya satu persatu, walaupun hanya lewat WA atau bahkan menelepon langsung. Kita saja yang hanya memiliki anak tiga atau lima orang yang sedang belajar di rumah sudah berteriak dan stress, bagaimana dengan guru yang harus memantau siswanya yang lebih dari 50 orang?

Masih banyak lagi tugas dan tanggungjawab yang selama ini dilakukan oleh guru-guru demi kebaikan siswanya namun tidak terekspose di media, jadi, bagi masyarakat terutama para orang tua MOHON DENGAN SANGAT berhentilah menghujat guru-guru ‘HANYA MAKAN GAJI BUTA’

Marilah kita saling bergandeng tangan membantu guru-guru di Indonesia, karena untuk mencerdaskan generasi muda dan siswa kita di masa mendatang ini bukan hanya tugas guru, tapi TUGAS KITA BERSAMA.

0 Response to "BERHENTILAH MENGHUJAT “GURU MAKAN GAJI BUTA”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

Bantu Like artikel ini ya .....